Kata Jogi Hutabarat - Tenaga Kerja Vs Mesin


Untuk kesekian kali, mall di deket rumah sudah mengganti pekerja pemberi tiket masuk dengan mesin. Miris!

parahnya lagi sekarang sudah banyak SPBU PERTAMINA yang menggunakan fasilitas self service. Sebelumnya untuk setiap mesin pom bensin dijaga oleh 2 orang petugas. Namun, dengan mesin baru, untuk 3 mesin pom bensin hanya dijaga oleh 1 orang petugas saja. 

Pemangkasan tenaga kerja lalu menggantikan dengan mesin hanya menguntungkan pemilik SPBU, lebih praktis karena tidak perlu merekrut dan melatih tenaga kerja, dan biaya lebih efisien. 

Namun dari sisi tenaga kerja dan para pelanggan. Ini tidak sebanding. 

Tingkat pengangguran di Indonesia tinggi. Setuju?! Ya. 

Kalau seluruh perusahaan di Indonesia menggantikan tenaga kerja dengan mesin, apa pengangguran akan berkurang?!. Tidak.

Bertambah!?. Ya.

Terus mengapa ini tidak menjadi perhatian kita semua?! 

Ada tidak peraturan mengenai hal ini. Ketegasan akan peraturan mengenai kondisi dimana perusahaan hanya bisa menggantikan tenaga kerja dengan mesin dalam kondisi tertentu, seperti, kalau kondisinya tidak ada tenaga kerja yang memiliki keahlian mesin tersebut, mengutamakan keselamatan, butuh pekerjaan yang detail, dll.

Namun, Kalau alasan utamanya adalah efisiensi biaya produksi perusahaan, Jelas, ini hanya akan menguntungkan perusahaan saja. 

Sebaiknya kita tidak bisa mengadaptasikan ini secara menyeluruh. Kalau di negara seperti Amerika, Eropa, dan Jepang, menggantikan tenaga kerja dengan mesin, karena memang tidak ada tenaga yang mengerjakan, belum lagi gaji yang tinggi untuk para pekerja. Sedangkan di Indonesia, sangat banyak pengangguran yang ingin bekerja untuk bertahan hidup.

Ini permasalahan serius! bukan hal yang sepele. 

Kalau semua perusahaan yang ada di Indonesia melakukan hal yang sama, keuntungan yang mereka miliki tidak sebanding dengan kotribusi yang mereka berikan untuk Indonesia.

Yang saya sering dengar di televisi, pemerintah selalu bangga dengan tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia sekian persen.

Saya bisa katakan, saya tidak peduli seberapa persen pertumbuhan yang terjadi, yang saya peduli adalah keadilan dan pemerataannya. Salah satu jalan terbaiknya adalah memberikan lapangan kerja pada masyarakat Indonesia.

Ingat Full Employement! itu juga bagian dari baik tidaknya pertumbuhan suatu negara.

Saya harus belajar lagi. Iya! Saya mungkin tidak pintar dalam perhitungan ekonomi. Iya!. Tapi saya memiliki kepekaan terhadap lingkungan, dan saya perihatin.

Si kaya semakin semena-mena terhadap si miskin, dan pemerintah hanya memikirkan popularitas dan perut mereka.

Post a Comment

0 Comments