Kata Preman Berkedok Tukang Parkir

Jakarta, 26 April 2013

Waktu makan malam bersama suami di Warung Lele - Lela Binus, saya sempat terganggu dengan kertas pengumuman yang bertuliskan..

"PARKIR..!! Wajib BAYAR, PARKIR MOTOR Rp 2000 PARKIR MOBIL Rp 3000"


Karena penasaran, saya bertanya ke salah satu pegawai Warung Lele - Lela..

"Mas, itu yang pajang pengumuman itu siapa?"

"Ooo.. itu keamanan disini mbak.."

Dalam hati.. Siapa keamanannya?! Siapa yang menetapkan!? Apa pertimbangan untuk menetapkan tarif parkir itu?!

kalau saya hanya datang untuk 30 menit saja, biaya parkir yang ditetapkan itu sudah sama dengan biaya parkir di mall, sedangkan fasilitasnya tidak sebagus di mall.
Tarif di area parkir tidak bisa dianggap sepele! Contohnya saja dari perusahaan yang sudah mapan, seperti Carrefour dan Giant! Dua perusahaan itu memberikan parkir gratis!! hal itu bukan tidak berlandaskan penelitian lhoo.. Untuk dapat berkompetisi dan menjadi pengusaha yang maju, harus dapat sensitif dengan hal kecil, dengan cara..

"MEMPOSISIKAN DIRI ANDA MENJADI KONSUMEN."

Oke sekarang balik lagi ke masalah Tukang Parkir!
 
Perihal parkir ini cukup membuat saya malas untuk datang lagi ke Warung Lele - Lela Binus, kalau saya bandingkan dengan warung lele lain, yang sama enaknya, yang sama bersihnya, paling tidak saya tidak "gondok" karena perasaan "diperas" dengan uang parkir.

Setelah diingat-ingat kembali, sebelum kejadian ini, saya juga mendapat pengalaman yang benar-benar membuat saya merasa "terhina" di area parkir Warung Lele -  Lela Binus.

Ini terjadi beberapa bulan sebelumnya, sekitar akhir tahun 2012. DI waktu itu, belum ada tulisan pengumuman tarif (di atas).

Setelah saya makan, lalu akan pulang, saya membayar parkir 1000 rupiah, dengan uang receh. Yang dilakukan oleh Si Tukang Parkir, MEMBUANG (MELEMPAR) UANG RECEH SAYA KE TANAH. Disaat itu saya dan suami cukup dapat menahan emosi karena kami menganggap tukang parkir itu sedang tidak waras!

Bila memang uang parkir 1000 rupiah itu tidak cukup (Menurut Si Tukang Parkir), minta dengan baik-baik. Lagipula tarif parkir 1000 rupiah adalah harga yang wajar untuk sebuah motor.

Si Tukang Parkir itu memiliki penyakit kronis "tidak bersyukur". Kalau amanat 1000 rupiah saja tidak bisa dia hargai, bagaimana dia akan dapat menjalankan amanat yang lebih besar. Mungkin itu yang menyebabkan ALLAH tidak menaikan derajatnya dan menambah rezekinya!

Sekarang, pertanyaannya! Lalu apa bedanya Tukang Parkir dan Preman, mereka sama-sama memeras uang orang lain, dengan tarif (jumlah uang) yang mereka tetapkan sendiri. Malah sering kali, kendaraan kita adalah alat untuk ancaman mereka..

"Mau mobil/motor anda selamat dari baretan?! Bayar parkir dulu di awal, sesuai tarif kami, 5000!"

Hal ini sering kali terjadi di tempat parkir umum yang areanya luas, seperti di senayan, di PRJ, di Taman Mini, dll. Tapi anehnya sekarang, yang katanya zaman anti premanisme kejadian ini malah makin merajalela, bahkan di area parkir yang tidak luas/ sempit malah, Seperti di Warung Lele - Lela Binus, Alfamart, Indomart, dan bahkan di ATM!!! 

Siapa yang harusnya MEMONITOR kejadian ini??!! 

Jawabanya, KITA SEMUA..
  • Konsumen yang tidak ingin terus menerus merasa "diperas"
  • Pengusaha yang terhambat usaha nya karena sering kali konsumen gondok karena uang "keamanan" alias parkir
  • Pemerintah Daerah yang harus nya peka terhadap aplikasi lain dari perilaku premanisme.
Saran saya sebagai masyarakat yang cukup terganggu dengan perilaku Premanisme bekedok Tukang Parkir adalah..

sah kan saja tukang parkir menjadi suatu "profesi" dan pembiayaan parkir dilegalkan dengan menjadi restribusi daerah. 

Keuntungan nya dapat dirasakan oleh semua pihak ;

  • Konsumen dapat dengan ikhlas memberikan uang karena merupakan sumbangan untuk kemajuan daerah, dan tidak merasa diperas.
  • Pengusaha juga lebih mudah untuk menyikapi orang-orang "keamanan" yang menjadi penghalang majunya usaha
  • Pemerintah daerah juga mendapatkan pendapatan untuk memajukan daerahnya dari orang-orang yang terbilang mampu (Yang memiliki kendaraan)
Saya yakin kita semua sepakat untuk mengatakn TIDAK pada PREMANISME, Kalau begitu kita harus berantas PERILAKU PREMANISME yang berkedok dalam bentuk lain, salah satunya adalah TUKANG PARKIR
 

Comments

Popular posts from this blog

Jaga Bicara di Depan Ibu Hamil dan Ibu Menyusui

Tips & Triks Tetap Sehat Saat Jajan (Sepulang dari Luar Negeri)

Makan Sambil Main